LASKAR HAIDAR

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

بسم الله الرحمن الرحيم

و الصلاة و السلام على محمد و آل محمد

السلام عليكم و رحمة الله تعالى و بركاته



اَعْظَمَ اللهُ اُجُورَنابِمُصابِنا بِالْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلامُ

وَجَعَلَنا وَاِيّاكُمْ مِنَ الطّالِبينَ بِثارِهِ مَعَ وَلِيِّهِ الاِْمامِ الْمَهْدِيِّ

مِنْ آلِ مُحَمَّدعَلَيْهِمُ السَّلامُ









Laa fataa illa 'ali laa saif illaa dzulfiqaar

About Me

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Blog Archive

Thumbnail Recent Post

Total Tayangan Halaman




Daftar Blog Saya

Entri Populer

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...


السَّلاَمُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَ عَلَى أَوْلاَدِ الْحُسَيْنِ وَ عَلَى أَصْحَابِ الْحُسَيْنِ

Kamis 9 Muharram Muharram 61 Hijriah, Imam Husain dikepung pasukan angkara murka Yazid bin Muawiah yang zalim. Pasukan dikerahkan dari Kufah ketika beliau dalam perjalanan selama berhari-hari dari Mekkah di Hijaz menuju Kufah di Irak. Beliau ke Kufah demi memenuhi undangan dan janji penduduk kota itu untuk berperang melawan Yazid dan antek-anteknya yang zalim dan tiran. Namun, saat beliau menjalani misi itu, penduduk Kufah ternyata ingkar janji akibat gencarnya tekanan pihak musuh yang berada di Kufah di bawah pimpinan Ubaidillah bin Ziyad, gubernur pemerintahan Yazid yang berbasis di Damaskus, Suriah yang saat itu bernama Syam.

Pasukan musuh Imam Husain as pimpinan Umar bin Sa’ad bergerak ke arah lokasi perkemahan Imam Husain as di padang Karbala. Saat itu Imam Husain as sedang duduk tertidur dalam posisi merebahkan kepala di atas lututnya. Beliau terjaga saat didatangi adindanya, Zainab Al-Kubra as yang panik mendengar suara ribut ringkik dan derap kaki kuda.

“Kakanda, tidakkah engkau mendengar suara bising pasukan musuh yang sedang bergerak menuju kita?!” seru Zainab as.

Beliau berkata kepada adik lelakinya, Abbas: “Datangilah kaum itu, dan tanyakan kepada mereka untuk apa mereka kemari?”

Abbas pergi ke arah musuh dan menyampaikan pertanyaan tersebut kepada mereka. Pihak musuh menjawab: “Sang Amir telah memerintahkan agar kalian patuh kepada perintahnya. Jika tidak maka kami akan berperang dengan kalian.”

Abbas kemudian bergegas lagi menghadap Imam Husain as dan menceritakan apa jawaban musuh. Imam berkata lagi kepada Abbas: “Adikku, demi engkau aku rela berkorban, datangilah lagi pasukan musuh itu dan mintalah mereka supaya memberi kami waktu satu malam untuk kami penuhi dengan munajat, doa, dan istighfar. Allah Maha Mengetahui bahwa aku sangat menyukai solat, membaca ALQuran, berdoa, dan beristighfar.”

Abbas kembali mendatangi pasukan musuh untuk menyampaikan pesan tersebut. Setelah mendengar permintaan itu, Umar bin Saad berunding dengan orang-orang dekatnya dan akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi permintaan itu. Dia mengirim utusan kepada Imam Husain as. Sesampainya di perkemahan Imam Husain as, utusan Umar berteriak lantang: “Kami beri waktu kalian hingga besok. Jika kalian menyerah, kami akan memboyong kalian ke hadapan Sang Amir. Jika tidak maka kami tidak akan melepaskan kalian.”



Perundingan Pertengahan Malam Asyura

Pertengahan malam Asyura para pemuda Bani Hasyim berkumpul di dalam tenda Abu Fadhl Abbas, adik setia Imam Husain as. Abu Fadhl berkata kepada mereka:

“Saudara-saudaraku sekalian, jika besok perang sudah dimulai, orang-orang yang pertama kali bergegas ke medan pertempuran adalah kalian sendiri agar masyarakat tidak mengatakan bahwa Bani Hasyim telah meminta pertolongan orang lain tetapi mereka ternyata lebih mementingkan kehidupan diri sendiri ketimbang orang-orang lain….”

Para pemuda Bani Hasyim itu menjawab: “Kami taat kepada perintahmu.”

Di tempat lain, dalam tenda Habib bin Madhahir, terjadi perundingan beberapa orang non-Bani Hasyim. Habib bin Madhahir berkata kepada mereka:

“Besok, tatkala perang sudah dimulai, kalianlah yang harus terjun terlebih dahulu ke medan laga, dan jangan sampai kalian didahului oleh seorangpun dari Bani Hasyim, karena mereka adalah para pemuka dan junjungan kita semua… "

"Para sahabat Habib bin Madhahir berkata: 'Kata-katamu benar, dan kami akan setia mentaatinya. "

Esok harinya, Imam Husain as kemudian bergegas mengendarai kuda dan membentuk barisan kecil di depan barisan raksasa pasukan musuh.

Saat pasukan Umar bin Sa'ad sudah berada di atas kuda sambil menyeringai dan siap membantai Imam Husain as dan rombongannya, Imam Husain as memerintahkan Burair bin Khudhair untuk mencoba memberikan nasihat lagi kepada musuh. Namun, apalah artinya kata-kata Burair untuk musuh yang sudah menutup pintu hati nurani mereka itu. Apapun yang dikatakan Burair sama sekali tidak menyentuh jiwa dan perasaan mereka.

Dalam keadaan sedemikian rupa, Imam Husain as bertahan untuk tidak memulai pertempuran antara pasukan hak dan pasukan batil itu. Sebaliknya, beliau masih membiarkan dirinya tenang manakala pasukan Umar bin Sa'ad sudah mulai berulah di sekeliling perkemahan Imam Husain as. Imam Husain memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menggali parit dan menyulut kobaran api.

Saat suasana bertambah panas, Syimir bin Dzil Jausyan berteriak keras memanggil Imam Husain as.

"Hai Husain!" pekik Shimir, "Adakah kamu tergesa-gesa untuk masuk ke dalam neraka sebelum hari kiamat nanti?!"

Begitu mengetahui suara itu berasal dari mulut Syimir, Imam Husain as membalas: "Hai anak pengembala sapi, kamulah yang pantas menghuni neraka."

Melihat kekurangajaran Syimir kepada cucu Rasul itu, Muslim bin Ausajah mencoba melepaskan anak panahnya ke tubuh Syimir. Namun Imam Husain as mencegahnya.

"Jangan!" seru Imam Husain as. "Aku tidak ingin menjadi pihak yang memulai peperangan."

Setelah itu, beliau mencoba menuntaskan hujjahnya dengan kalimat dan penjelasan panjang mengenai siapa beliau dengan harapan bisa membuka hati nurani musuh. Semua orang terdiam mendengar kata-kata Imam Husain as sampai Qais bin Asy'ats berani berteriak: "Kata-katamu ini sudah tidak ada gunanya lagi. Kamu tak usah berperang dan lebih baik menyerah kepada anak-anak pamanmu itu karena mereka tidak akan berbuat jahat terhadapmu."

Imam Husain as berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menyerah kepada kalian. Aku tidak bersedia menjadi orang hina di depan orang-orang durhaka. Aku tidak akan membebani diriku dengan ketaatan kepada aturan manusia-manusia yang terbelenggu."

Puteri Fatimah Azzahra ini kemudian membacakan dua ayat suci dalam AlQuran dengan suara lantang:

"Sesungguhnya aku hanya berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari kehendak kalian untuk merajamku."

"Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari setiap manusia takabur yang tak beriman kepada hari pembalasan."

Imam Husain as kemudian meminta Umar bin Sa'ad datang mendekati beliau. Meski dengan berat hati dan gengsi, Ibnu Sa'ad memenuhi permintaan Imam Husain as.

"Hai Ibnu Sa'ad!" seru Imam Husain as, "Apakah kamu akan membunuhku supaya Abdullah bin Ziyad si anak zina dan putera zina itu menyerahkan kekuasaan di Rey dan Jurjan kepadamu? Demi Allah, apa yang kamu harapkan itu tidak dapat kamu capai. Kamu tidak akan pernah mendapatkan kekuasaan di dua wilayah itu."

Kata-kata Imam Husain as ini memancing emosi Umar bin Sa’ad. Dia segera berpaling ke arah pasukannya sambil berteriak: “Apa yang kalian tunggu? Cepat bereskan si pemalas ini. Seranglah Husain dan para pengikutnya yang jumlahnya hanya segelintir itu.”

Imam Husain as segera bergegas menunggangi kudanya. Orang-orang yang ada masih tetap dimintanya untuk tenang. Ketika mereka bersedia diam, beliau masih mencoba menyampaikan sebuah khutbah untuk menyadarkan hati mereka.

Jiwa Hur Tersentuh Kalimat Imam Husain

Kata-kata Imam Husain as berhasil menyentuh nurani hati salah seorang komandan musuh bernama Hurr bin Yazid Arriyahi. Dia memberanikan diri untuk mendekati Imam Husain as sambil meletakkan telapak tangan di kepalanya. Dia bertaubat dan disambut baik oleh Imam Husain.

Hurr kemudian meminta diri dari Imam Husain as dan pergi mendekati pasukan Umar bin Sa’ad yang kini sudah menjadi musuhnya. Di depan mereka Hurr memberondongkan kata-kata pedas dan kutukan. Begitu kata-kata Hurr tuntas, beberapa orang pasukan Ibnu Sa’ad membidikkan anak panah ke arah Hurr. Hurr bergegas pergi menghadap Imam Husain as untuk memohon instruksi penyerangan.

Serentak dengan ini, Umar bin Sa’ad berteriak kepada budaknya: “Hai Duraid, cepat maju!” Umar mengambil sepucuk anak panah dan memasangnya ke tali busur sambil berteriak lagi: “Hai orang-orang, saksikanlah bahwa aku adalah orang pertama yang membidikkan anak panah ke arah pasukan Husain.” Anak panah itu melesat.

Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan, melesatnya anak panah Umar bin Sa’ad segera disusul dengan hujan panah dari anak buahnya ke arah pasukan Imam Husain as. Imam Husain pun menurunkan instruksi untuk melakukan perlawanan.

Imam Husain as mengizinkan permohonan Hurr untuk maju sebagai orang pertama yang berjihad. Hurr pun maju dengan gagah berani. Selama melakukan perlawanan dan serangan di tengah pasukan musuh yang mengerubunginya, Hurr sempat melihat anak dan saudaranya yang juga termasuk anggota ribuan pasukan musuh. Hurr meminta putera dan saudaranya supaya bertobat. Keduanya bertaubat dan gugur setelah bertempur dan berhasil menghabisi pasukan musuh dalam jumlah besar. Hurr sendiri gugur setelah memberikan persembahan yang tak kalah besarnya.

Gugurnya mereka disusul dengan majunya pengikut setia Imam Husain bernama Muslim bin Ausajah. Sahabat setia itu tersungkur dan syahid setelah memporak-porandakan sebagian barisan pasukan musuh dan menuai nyawa mereka.

Saat solat dhuhur tiba, atas perintah Imam, pengikut beliau bernama Habib bin Madhahir meminta diberi waktu untuk menunaikan solat. Namun dia disambut dengan kekerasan sehingga dia terpaksa menghantamkan pedangnya ke arah beberapa pasukan musuh mengakibatkan sejumlah orang tewas. Dia bertempur dan saat kecapaian dalam bertahan dan menyerang, hantaman pedang musuh lolos dari tangkisannya dan langsung mendarat di bagian kepalanya. Habib terjerembab dari atas kuda. Dalam keadaan lunglai, Habib mencoba bangkit bertahan. Namun, berdirinya Habib segera disusul dengan ayunan pedang Hushain bin Namir yang menghantam kepalanya. Sahabat setia Imam Husain as ini roboh dalam kondisi mengenaskan. Tak puas dengan itu, Hushain datang lagi dan memenggal kepada Habib hingga terpisah dari jasadnya.

Imam Husain as kemudian memerintahkan Zuhair bin Al-Qain dan Said bin Abdullah untuk berbaris di depan Imam Husain bersama separuh pasukan beliau yang masih tersisa untuk mengawal solat beliau bersama separuh pasukan dan pengikut Imam Husain as lainnya, karena pasukan musuh tidak mengizinkan beliau solat.

Kekejaman musuh keluarga Nabi SAWW itu ternyata tak kenal waktu. Said bin Abdullah yang berdiri tepat di depan Imam Husain as menjadi sasaran beberapa anak panah. Tak urung, pria pemberani ini gugur setelah menjadi perisai hidup Imam Husain as. Dia roboh tepat di depan mata junjungannya yang suci itu.

Pembantaian terhadap Said hingga gugur itu tidak dilanjutkan musuh sehingga Imam Husain as melanjutkan solat hingga tuntas. Seusai solat, Imam kembali menyiramkan semangat jihad kepada para pengikutnya.

Para pahlawan Karbala pengikut Imam Husain kemudian terjun ke medan laga dan bahu membahu membela junjungannya dari kebejatan kaum zalim. Selagi tenaga masih tersisa mereka tak membiarkan siapapun untuk menjamah kehormatan cucu Rasul itu. Bahkan para pengikut Imam Husain as dari kalangan non-Bani Hasyim tidak membiarkan seorangpun dari Bani Hasyim yang terjun ke medan laga melawan musuh sebelum mereka sendiri yang maju.

Leave a Reply

Silahkan masukkan komentar anda...!!!